Breaking News
Home / Manajemen Pikiran / Mendeteksi Wajah Kemarahan

Mendeteksi Wajah Kemarahan

Mendeteksi Wajah Kemarahan – Sepanjang sejarah hidup manusia, kemarahan merupakan sifat yang inheren dalam dirinya. Kemarahan yang tidak terkendali seringkali berdampak buruk. Seringkai kemarahan menjadikan hubungan teman, kerabat, sahabat menjadi renggang. Semua orang tentu tidak menghendaki hal ini, tapi ketika marah sudah tidak terkontrol, semuanya sirna begitu saja. Sahabat, teman, kerabat pergi begitu saja, dan kita menjadi orang asing di lingkungan kita sendiri.

Kemarahan sesungguhnya adalah sebentuk emosi yang sangat manusiawi yang berkolaborasi dengan nafsu sehingga bisa berdampak positif atau negatif. Semua itu tergantung bagaimana kita memanajemen kemarahan kita menjadi energi positif. Pada dasarnya, kemarahan dapat memproduksi energi positif untuk meluruskan kesalahan, memperjuangkan kebenaran atau mengangkat isu-isu penting dalam hubungan seseorang yang sangat pribadi.

Pada kenyataannya, kemarahan seringkali datang secara mendadak dan meniadakan begitu saja kemungkinan untuk bisa mengendalikannya. Kemarahan selalu terejawantahkan disebabkan adanya pemicu, pikiran yang berkecamuk, ekspresi, pasif-agresif, serta perasaan gaduh. Proyek manajemen kemarahan Robert Nay yang tuang secara brilian menuturkan bahwa seseorang perlu ngenali kelima penyebab tersebut yang terakumulasi dalam fisiologi kemarahan.  Ada tanda dan gejala kernarahan yang memungkinkan kita untuk mempelajari dan menemukan faktor kemarahan dalam diri kita. Kita bisa mendeteksi detak jantung dan perubahan tekanan darah, laju pernapasan yang meningkat, respons Iambung dan darah, respons otot-otot tubuh, perubahan temperatur kulit, indra yang menajam serta perubahan kimiawi darah dan adrenalin.

Mendeteksi Wajah KemarahanPusparagam bentuk fisiologis kemarahan itu dapat memudahkan kita untuk mengidentifikasi karakter kemarahan melalui multiwajah kemarahan. Misalnya sarkasme, wajah kemarahan tampak dari cara orang melontarkan “banyolan” atau sindiran yang menyakitkan orang lain; membuka aib seseorang di hadapan orang lain atau mempermalukannya di depan umum; mengeraskan suara dan sikap yang dapat membuat orang muak atau tidak senang.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, terkadang kita sulit membedakan antara berkelakar dan mengolok-olok, Hanya sejumput orang saja yang sangat mahir mengkombinasikan kecerdasan dan sindiran tajam sebagai suatu cara melepaskan kemarahan lewat sebuah manuver intelektual. Oleh karenanya, jika menjadi salah satu korban sarkasme, kita mungkin terluka, tetapi tidak tahu cara menafsirkan ucapan yang telah ditujukan kepada kita atau bagaimana menanggapinya. Memang kita bisa saja merasa bahwa kitalah yang memiliki masalah karena tidak cukup memiliki selera humor atau karena kita ternyata gampang tersinggung.

Setiap bentuk sarkasme tak pertu direspons secara berlebihanr tetapi yang sebaiknya dipilih jalan untuk memuntahkan kemarahan secara lebih bermakna. Lewat risetnya yang cerdas dan jeli, penulis memaparkan perlunya manajemen kemarahan. Kita perlu memahami dan mengenali kemarahan dengan cara belajar mengidentifikasi apakah kemarahan itu merupakan masalah bagi kita dan orang lain.

Kemudian bersiap-siaplah menghadapi pemicu kemarahan yang merangsang kemarahan. Menyadari kemarahan sejak dini dan berusaha meredakan gejolak. Mengubah berbagai pikiran yang memperparah kemarahan. Tetap bersikap tenang dalam situasi panas. Mempertahankan perilaku baru untuk menghadapi rintangan yang menghadang. Sebenarnya memang bukan soal mudah untuk mengeIola dan membangun kebiasaan marah yang baru. Tetapi, paling tidak, kita bisa memahami dari faktor penyulut kemarahan. Misalnya, mungkin kita pernah mengalami kondisi fisik yang sudah tidak sanggup menjalankan tugas dengan baik yang bisa saja membuat kita marah. Atau ketika pekerjaan kurang memuaskan. Atau ketika kita menyaksikan orang lain yang bertingkah laku kurang sopan, kurang terpelajar, dan gayanya memuakkan. Atau saat kita melihat orang lain tidak bisa berlaku adil, gagal menghargai pekerjaan atau mendapat imbalan yang tidak setimpal.

Banyak faktor yang bisa memicu kemarahan. Banyak cara bisa dilakukan untuk membangun kebiasaan marah yang baru. Kata pepatah, bisa karena biasa. Selalu berlatih untuk mengucapkan selamat tinggal pada wajah kemarahan yang lama. Anggaplah bahwa kemarahan tak ada bedanya dengan beratnya beban masalah di atas punggung. Jadi, segera buang jauh-jauh beban berat itu dengan Cara belajar marah dalam keadaan sadar diri serta memahami betul risiko yang ditimbulkannya. Pradipta Sarastika

Demikianlah cerita tentang Mendeteksi Wajah Kemarahan, baca juga cerita motivasi diri tentang Cara Mewaspadai Kemarahan. Jika kalian suka dengan artikel diatas, mohon untuk menekan tombol like ya, dan jika tidak keberatan mohon untuk dishare juga, agar ilmu ini bisa bermanfaat bagi semuanya. Terima kasih sebelumnya.

Check Also

Menemukan Kenikmatan Dalam Depresi

Menemukan Kenikmatan Dalam Depresi – Ujian dan cobaan tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia.  …

Seal Online
Inline
Inline